Java Jazz Festival 2014

Artists

Danilla



    Genre : Jazz

    Perform on:
    Friday February 28, 2014
    Delta Female Stage

    Website :
    http://


  

About This Act :

Alih-alih disebut sebagai penyanyi, wanita yang pada tanggal 12 Februari 1990 silam lahir ke bumi ini lebih senang menyebut dirinya sebagai pengantar pesan. Baginya musik dan bernyanyi adalah tak lebih dari sebuah media penyampaian pesan dengan balutan estetika. Bernyanyi adalah tentang berbicara lewat lagu. "Semua orang bisa bernyanyi, tapi tidak semua yang bernyanyi benar-benar berbicara", tutur Danilla.

Pemilik nama lengkap Danilla Jelita Poetri Riyadi yang amat gemar akan musik Britpop dan triphop ini sangat akrab dengan suasana kelam serta hujan. Daya nalar menulis lagu yang di atas rata-rata adalah hal yang sudah ia syukuri sejak lama kepada Tuhan, sang pemberi anugerah. Sederet nama seperti Jay Jay Johanson, Sophie Ellis Bextor, Portishead, Diana Krall, Antonio Carlos Jobim, Joao Gilberto, termasuk seorang penembang keroncong di era dulu yang juga sang nenek darinya, yakni Sumiyati Sutiko membawa banyak pengaruh dalam naluri bermusiknya. Semua itu digelontorkan dalam sejumlah lagu yang digarapnya di dalam album Telisik bersama produsernya, Lafa Pratomo. Sejumlah lagu di dalam Telisik merupakan anak yang dilahirkan melalui proses cukup panjang, hingga akhirnya Telisik itu sendiri menjadi rumah yang menopang anak-anak ini. Lagu-lagu dengan syair manis seperti "Ada di Sana" yang secara eksplisit mengisahkan seorang yang dengan sesopan-sopannya meminta restu untuk menghuni hati insan dambaannya, atau "Buaian" yang bersenandung tentang kekaguman, "Terpaut Oleh Waktu" dan "Senja di Ambang Pilu" yang berkisah soal kerinduan menjadi nomor-nomor yang memang ditulis sebagai sahabat bagi telinga pendengar.

Ada pula lagu dengan bahasa asing seperti "Junko Furuta" yang mengisahkan sebuah tragedi seorang wanita di Jepang pada tahun 1989 yang mati mengenaskan melalui sebuah pembantaian selama puluhan hari, juga "Oh, No!" yang bercerita tentang seksualitas, dan "Rezte Avec" Moi yang ditulis oleh ibunda Danilla Riyadi, Ika Ratih Poespa.

Ambisi bukan bagian dari dirinya. Danilla bernyanyi karena memang ia sudah terlalu cinta terhadap bermusik. Baginya, bermusik bukanlah sebuah media menuju popularitas yang begitu obsesif, melainkan sebuah media ungkap demi aktualisasi diri dimana ia benar-benar menemukan dirinya di dalam musiknya hingga pada akhirnya Telisik menjadi sebuah sarana pengejawantahan akan ide-ide serta keresahan yang alamiah sebagai manusia yang diciptakan lengkap dengan fitur pemikiran juga perasaan di dalam dirinya.



Top