Aksan Sjuman Trio

Bernama lengkap Sri Aksana Sjuman. Lahir 22 September 1970. Putra dari sutradara legendaris Indonesia, Sjuman Djaja, dari pernikahannya dengan maestro ballet Farida Oetoyo.
 
Karena kesibukan kedua orang tuanya, sejak kecil ia sering dititipi dengan tetangga. Namun hal ini tidak membuatnya bersedih dan berkecil hati, malah membuatnya bangga, karena menurutnya, ia mendapatkan kebebasan yang tidak didapat anak lain. Karena itulah ketika beranjak dewasa jiwa avonturirnya mulai tumbuh dan talentanya pada musik mulai  kentara. Ia mulai menyenangi bermain alat-alat musik seperti gitar, piano, biola, sampai saksofon. Musik yang paling ia gemari adalah jazz, sampai-sampai koleksi kaset jazznya mencapai 200 lebih.
 
Ketika ayahnya wafat, ia mulai menjalani talentana dengan lebih serius. Karirnya dimulai dengan ikut sekolah musik milik Gilang Ramadhan, kemudian ikut les privat pada Sakinah de Jawas (pengajar drum IKJ) dan akhirnya ia memutuskan untuk melanjutkan studi di Jerman dan diterima di Folkwang Music Schule. Di sekolah ini, jiwa avonturirnya tak pernah padam. Ia aktif hampir di segala macam jurusan, seperti tari balet, fotografi, pantomim, bahkan dapat menyelesaikan  dua album rekaman, ‘Chicken Takes Times’ dan ‘Taste Of Waste’.
 
Tahun 1995, ia bergabung dengan grup musik Dewa 19 sebagai penabuh drum setelah album ‘Terbaik Terbaik’ selesai. Di Dewa 19 ia biasa dipanggil Wong Aksan. Nama Wong di depan namanya hanyalah untuk menyesuaikan akronim dari nama Dewa 19. Namun setelah menyelesaikan pembuatan album ‘Pandawa Lima’ (1997), pada 4 Juni 1998, ia memutuskan untuk keluar dari Dewa 19. Setelah keluar dari Dewa 19, Ia lalu bergabung sebagai penabuh drum pada grup musik Potret. Ia turut berperan dalam pembuatan sejumlah album Potret, diantaranya album ‘From Dawn to Beyond’ (2001), ‘Positive+POSITIVE’ (2003) dan ‘I Just Wanna Say I L U’ (2008).
 
Selain berkiprah sebagai pemain band, ia juga membuat ilustrasi musik pada sejumlah film. Bahkan, beberapa karya ilustrasi musiknya ada yang mendapatkan penghargaan, antara lain ilustrasi musik film ‘Dunia Mereka’ (2006), ilustrasi musik film ‘The Photograph’ masuk nominasi Jakmovie award 2007, ilustrasi musik film ‘Karma’ (2007), ilustrasi musik film ‘Lost In Love’ (2007) masuk nominasi FFI 2008, ilustrasi musik film ‘Laskar Pelangi’ (2008) meraih penghargaan Festival Film Bandung/FFB 2009, ilustrasi musik film ‘Garuda Didadaku’ (2008) masuk nominasi FFI 2009, ilustrasi musik film ‘King’ (2008) meraih penghargaan FFI 2009, ilustrasi musik film ‘Sang Pemimpi’ meraih penghargaan FFB 2010, ilustrasi musik film ‘Minggu Pagi di Victoria Park’ (2010), ilustrasi musik film ‘Tanah Air Beta’ (2010) nominasi FFB 2011, ilustrasi musik ‘Rindu Purnama’ (2011), dan ilustrasi musik film ‘Serdadu Kumbang’ (2011). Di film, ia tidak hanya membuat ilustrasi musiknya saja, pada beberapa judul film ia juga tampil sebagai pemain, yakni dalam film ‘Kuldesak’ (1998), ‘Lovely Luna’ (2004) dan ‘Rayya’, ‘Cahaya Diatas Cahaya’ (2012).